Tampilkan postingan dengan label antalogi 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antalogi 3. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

KUMPULAN PUISI : NYANYIAN BINTANG

MEMBACA TANDA BACA
Oleh: Drajat nurangkoso

Sederet tulisan di lembaran hidup
Tak termaknai sampai kini
Cukup sederhana
Abjadnya terangke kata
” Mati kue kunci mulih maring mula bukane...”
Mungkin karena aku telah kehilangan
Darah Jawa yang mengalir dari moyangku
Mungkin karena bintang tak lagi mau berdendang
ditinggalkan anak-anak di halaman rumah sendirian

Perenungan yang dangkal hanya menjebakku
Memaknai tanda baca yang menjadi teka-teki
Di botol-botol alkohol cuma suara dengung
Angin yang terperangkap memeram gairah sexsual
Tergenang dalam kubangan sperma
Di liukan asap tembako dan cimeng
Malam yang dingin dipenuhi gelak-bukan nyanyian bintang
Di gelegak bong penghisap sabu menjentikan masa bodoh
Di dentum haousmusik exstasi menggedekan kepala rontokan bulu-bulu nurani
Mati...mati...mati.....
Terus kucari makna tanda dalam membacanya
Titik, koma, tanda petik, tanda tanya, tanda hubung
Tanda...tanda....tanda....

Duh Gusti Engkau yang menyuruh membaca
Ajari aku ya Robbi...ajari aku
Tuntun mata ini
Temukan jalan-Mu
Sebelum tanda seru Kau tempelkan di belakang kata matiku.
Aku ingin,
Aku sudah dapat membaca tanda baca dari Mu


Banjarnegara, 21 romadhon

kumpulan puisi NYANYIAN BINTANG

MEMBACA TANDA BACA
Oleh: Drajat nurangkoso

Sederet tulisan di lembaran hidup
Tak termaknai sampai kini
Cukup sederhana
Abjadnya terangke kata
” Mati kue kunci mulih maring mula bukane...”
Mungkin karena aku telah kehilangan
Darah Jawa yang mengalir dari moyangku
Mungkin karena bintang tak lagi mau berdendang
ditinggalkan anak-anak di halaman rumah sendirian

Perenungan yang dangkal hanya menjebakku
Memaknai tanda baca yang menjadi teka-teki
Di botol-botol alkohol cuma suara dengung
Angin yang terperangkap memeram gairah sexsual
Tergenang dalam kubangan sperma
Di liukan asap tembako dan cimeng
Malam yang dingin dipenuhi gelak-bukan nyanyian bintang
Di gelegak bong penghisap sabu menjentikan masa bodoh
Di dentum haousmusik exstasi menggedekan kepala rontokan bulu-bulu nurani
Mati...mati...mati.....
Terus kucari makna tanda dalam membacanya
Titik, koma, tanda petik, tanda tanya, tanda hubung
Tanda...tanda....tanda....

Duh Gusti Engkau yang menyuruh membaca
Ajari aku ya Robbi...ajari aku
Tuntun mata ini
Temukan jalan-Mu
Sebelum tanda seru Kau tempelkan di belakang kata matiku.
Aku ingin,
Aku sudah dapat membaca tanda baca dari Mu


Banjarnegara, 21 romadhon




Jumat, 29 Oktober 2010

PUISI

LAKI-LAKI BERISTRI BURUNG
Buat : duda sementara
Drajat NA.


Laki-laki beristri burung
Memapah hati menjaga pualam cinta
Selagi istrinya terbang melintas lautan
Tangannya setia mencoret angka-angka di kalender

Laki-laki beristri burung
Saban hari bercakap-cakap dengan kalender
Menyerahkan angkanya dicoret spidol merah
Hari demi hari

Laki-laki beristri burung
Dengan gagah menjaga pualam cintanya
Karna ia selalu menyimpan lembut istrinya
Di bening bola mata anaknya.

Suatu hari
Satu angka memberontak dicoret
Hari menjadi begitu panjang dan menyiksa
Jam dinding berdetak teramat pelan,
lantas ia berlari membating bulan

Ungaran, 25 Nopember 2008

Selasa, 12 Oktober 2010

PUISI

KUNCI
Buat : Agung Wibowo
OLEH : DRAJAT NUR

Setelah subuh
Di atas kolam Umbul Tlatar
Kau beri aku kunci
Aku terhenyak, angin seperti mati
Terpasung dalam relung hati
Setelah subuh kau beri aku kunci
Seperti dilemparkan
Sesaat sakit kulit dagingku lebam
Ku hirup angin Umbul Tlatar
Berputar putar di pusat kundalini
Bangunkan bulu kesadaran Illahiyah

Aku terhenyak-siapakah dirimu?
Laki-laki berjubah hitam dengan palu keadilan
Melempar kunci lalu pergi
Belum termaknai untuk apa
Kukalungkan dekat jantungku

Dengan ilmu ku coba kunci itu
Detak-detak nadi perlahan memasukan kunci dalam lobang hatiku
lenyap menjadi sel-sel membuka qolb ku
Tertimbang kini semua kata semua napas semua perbuatan
Kunci itu telah lenyap-kini aku ketakutan
Meski telah ada dalam sel hatiku tapi manusia berubah-ubah
Bila tak terbuka bolehkah kuminta kunci lagi?
membuka gudang tempat menyimpan timbangan
Agar dapat menghisab diri sebelum dihisabNya
Agar dapat bertemu Rosululloh Muhammad di kaki mizan timbanganNya

Berikan palumu juga
Agar aku dapat menjadi hakim sebelum dihakimi-Nya
Siapakah dirimu?
Ternyata aku tak perlu tau-Ia yang mengirim dirimu pada ku
Saat “ suwung” dalam hidupku
Luka-luka sepanjang napas kini termaknai
Cinta-Nya mengeraskan diriku
Setiap masalah membentur terpercik api penyadaran Illahiyah
Hidup semestinya adalah mati dalam tiap napas dan perbuatan-
Mati dalam Allah
Agar dunia tak menjadi pemberat
Saat melewati sirotol mustaqim

Banjarnegara, 25 Maret 2008